Powered By google

Sabtu, 04 Desember 2010

KEUTAMAAN AHLI ILMU DARI PADA AHLI IBADAH

AL KISAH SEORANG PEMBUNUH, AHLI IBADAH & AHLI ILMU [DARI HADITS]

Ada seorang Parewa yang telah banyak melakukan dosa. Salah satunya, dia telah membunuh banyak orang, hingga 99 orang. Tiba-tiba rasa kerinduan kepada kebenaran menghentaknya. Lalu pergilah ia bertanya kepada orang-orang, apakah ada yang bisa mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang ia punyai. Orang-orang menunjukkannya kepada seorang ahli ibadah. Setelah bertemu dengan orang yang yang ditunjukkannya tersebut, ia pun menanyakan tentang dosa yang telah ia lakukan, yaitu membunuh 99 orang. Apakah bagi dirinya masih terbuka pintu taubat dan hidayah?
Ternyata, orang yang ditanya menjawab : "Tidak," mendengar jawaban tersebut, parewa ini serasa marah, hingga dibunuhlah seorang ahli ibadah yang ditanya ini. Menjadi lengkaplah ia membunuh 100 orang.
[Pelajaran yang bisa kita ambil: Orang yang beribadah tanpa mengetahui dg pasti & benar Dasar Ilmu Ibadahnya maka sia-sialah ibadahnya, Ibadah harus berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadits]

Sekalipun ia mengulangi dosa yang telah lalu, tetapi ternyata tidak membuatnya putus asa. Kemudian, parewa ini pun kembali mencari seseorang yang bisa memberikan jawaban terhadap masalah yang menghantui pikirannya. Dia pun bertemu dengan seorang ahli ilmu.

Bertanyalah ia : "Saya telah membunuh 100 orang. Yang terakhir saya bunuh bukanlah orang sembarangan. Dia ahli ibadah, yang mungkin di mata Allah jauh lebih mulia dari 99 orang yang telah saya bunuh sebelumnya. Apakah pintu taubat masih terbuka bagi saya?”.

Mendengar pengaduan sang pemuda ini, seorang ahli ilmu ini menjawab : "Siapakah yang dapat menghalangi antara dirimu dengan taubat?” 
[keterangan: sebesar apapun dosa kita, selama kita berniat kuat utk taubat maka sesungguhnya Allah Maha Luas Pengampunannya]

Mendengar penjelasan ini, Sang Pemuda mengangkat kepalanya, seakan tidak percaya mendengar dari jawaban tersebut. Wajahnya berbinar, air matanya menetes karena bahagia. Selesailah sudah pengembaraannya. Saatnya ia menghirup hari-hari bahagia. Perilaku dan perbuatan yang telah meletihkan dan menyengsarakannya, tidak akan ia ulangi lagi. Dan ia pun menuruti nasihat seorang 'alim ini yang mengatakan : "Akan tetapi, berangkatlah engkau ke negeri yang jauh. Yaitu ke tempat orang-orang yang shalih. Jangan kembali lagi ke negerimu, karena negerimu tidak baik".

Berangkatlah ia melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman. Di dalam lubuk hatinya, ia berazam untuk hijrah dari semua amal buruk menuju kebaikan.

Parewa adalah bahasa Minang. Yaitu pemuda yang hidupnya bergelimang dosa dan maksiat, akan tetapi masih memiliki iman dan merasa segan terhadap orang yang taat beragama.

[HR Bukhari, 6/512; Muslim, no. 2766, dari Sa`ad bin Malik bin Sinan]



Dalam hadits ini sungguh telah dijelaskan betapa Pentingnya Ilmu sebagai tempat kita berteduh dari sengatan hawa nafsu dan syaitan, Apalah arti kita beribadah tanpa Ilmu dasarnya !!

1. Ibadah adalah suatu tata cara penghambaan kita kepada Rabb, maka tata caranya pun harus mengikuti aturan Rabb, maka orang2 yg beribadah selain dengan cara yang diberitahukan Rabb melalui Al Qur'an & Al Hadits, maka Ibadah tersebut adalah Bid'ah {Bid'ah adalah suatu perkara yg diada2kan dalam urusan agama Allah}
[ sejelek2nya perkara adl mengada-ada, dan setiap perkara yg diada-adakan adl bid'ah dan setiap bid'ah adl sesat. HR.Bukhari ]

2. Ilmu [Ilmu Agama] adalah sebuah pengetahuan yang memberitahukan kita tentang dasar2 Hukum, aturan, perintah, larangan, tata cara serta Kewajiban2 kita sebagai Hamba Allah, maka bagi siapapun yang belajar dan terus belajar maka dialah yg akan memperoleh ilmu yang banyak dan dinaikan derajatnya oleh Allah.

KESIMPULAN:
Ahli Ilmu jauh lebih baik dari pada Ahli Ibadah, maka dari itu janganlah kita terkecoh oleh ibadahnya seseorang hingga kita menilai dialah orang shaleh, sungguh kurang tepat jika seperti itu karena orang shaleh itu adalah orang yang sudah berilmu [bagaimana dia bisa dikatakan shaleh jika dia tidak mengetahui tata cara menjadi orang shaleh!!].

Sungguh masih banyak diantara kita yang rajin ibadah, tapi ternyata setelah ditemui secara langsung, keilmuanya masya Allah, mereka hanya mengikuti apa yg disampaikan ustadnya saja, padahal dunia ini luas dan seorang ustad bisa saja salah dalam perkataanya / pendapatnya. [based on pengalaman si fulan yg kebetulan didaerahnya masih dangkal ilmu]

Marilah kita mengkaji kebenaran yang hakiki dan tdk berlebih2an terhadap ustad kita [tidak boleh Ghuluw] sumber yang benar adalah Al Qur'an & Al Hadits.
[Hadits2 Sahih tentunya]

akhirul kalam,
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Al-Qur'an Wal Hadits Ala Fahmi Salaf

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:(lihat QS.At Taubah: 100)/(Qs. Al Baqarah: 137)Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah“. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204) Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)