Powered By google

Senin, 03 Januari 2011

SYARAH 'AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

SYARAH AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
OLEH:
YAZID BIN ABDUL QADIR JAWAS

BAB I

PENGERTIAN 'AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH


A. Deifinisi 'Aqidah

   'Aqidah menurut bahasa Arab (Etimologi) berasal dari kata al-'aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.(15)
   Sedangkan menurut istilah (terminologi) yang umu, 'aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
   Jadi 'Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid(16) dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, ari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara Ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih serta ijma' Salafush Shalih.(17)

B. Objek Kajian Ilmu 'Aqidah(18)
   'Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebgai ilmu sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama'ah meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath'i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa' wal bida' (pengikut hawa nafsu dan ahli bid'ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagimenyesatkan serta sikap terhadap mereka.

   Disiplin Ilmu 'aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.
  •  Penamaan 'Aqidah menurut Ahlus Sunnah:
Diantara nama-nama 'aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:
1. Al-Iman
'Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebgaimana yang disebutkan Al-Quran dan hadits-hadits Nabi s.a.w, karena 'aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebgaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur dengan hadits Jibri alaihis salam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah 'aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.(19)

2. 'Aqidah (I'tiqaad dan 'Aqaa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu 'aqidah dengan istilah 'Aqidah Salaf: 'Aqidah Ahlul Atsar dan al-I'tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.(20)

3. Tauhid
'Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma' wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu 'aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itu ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.(21)

4. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. 'Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah s.a.w dan para Sahabat di dalam msalah 'aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.(22)

5. Ushuluddin dan Ushuluddiniyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath'i  serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.(23)


6. Al-Fiqhul Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.(24) 

7.Asy-Syari'ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah 'aqidah).(25)

Itulah beberapa nama lain dari Ilmu 'Aqidah yang paling terkenal dan adakalanya kelompok lain selain Ahlus Sunnah menamakan 'Aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa'irah (Asy'ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.
  •   Penamaan 'aqidah menurut firqah (sekte) lain:
 Adapun beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah selain Ahlus Sunnahsebgai nama dari ilmu 'aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

1. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin (pengagung ilmu kalam/lisan), seperti aliran Mu'tazilah, Ayaa'irah(26) dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologiulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah 'aqidah.

2. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam 'aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebgai kaum shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam 'aqidah, karena merupakan penamaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam 'aqidah.

Penamaan tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini (ada) terkenal setelah itu atau masuk kedalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha'imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan: "Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam."(27)

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th.1407 H) rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya' wal Mashaadir: " Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajran Shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalan hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wa salaam dan para Sahabat beliau r.a, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah SWT dari para hamba-Nya (Setelah para Nabi dan Rasul) sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta kezuhudan Budha, konsep Asy-Syu'ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platosme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan."(28)

Syaikh 'Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Mashra'ut Tashawwuf: "Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah 'azza wajalla dan Rasul-Nya s.a.w. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. BIla diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan Paganisme."(29)

4.Ilaahiyyat (Teologi)
Ilaahiyyat adalah kajian 'aqidah dengan metodologi filsafat, Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum mutalkallimin tentang Allah SWT menurut persepesi mereka.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisika
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Bara serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai,karena hanya berdasar pada pemikiran maunisa semata dan bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dari prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka antu sebgai keyakinan, sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) 'aqli maupun naqli.

Sesungguhnya 'aqidah yang mempunyai pengertian yang benar yaitu 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa salam yang shahih serta Ikma' Salafush Shalih.

C. Definisi Salaf
   Menurut bahasa (etimologi), Salaf artinya yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama.(30) Salaf berarti pendahulu. Jika dikatakan salaf seseorang maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.(31)
   Menurut Istilah (terminologi), Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabiin, Tabi;ut Tabi'in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Sebaik-baik manusia adalah pada masku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi'in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi'ut Tabi'in)."(32)

   Menurut al-Qalsyani: "Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini, yang pemahaman ilmunya sanngat dalam ang mengikuti petunjuk Nabi saw dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-nya saw dan menegakkan agama-Nya..."(33)

   Syaikh Muhammad Ahmad Kafaji bekata di dalam kitabnya, al-'Aqiidatul Islamiyyah bainas Salfiyyah wal Mu'tazilah: "Penetapan istilah Salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang 'aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk,-pent)". Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Quran dan As Sunnah mengenai 'aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya barangsiapa pendaptanya menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in."(34)

   Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dikatakan juga as-Salafiyyuunkarena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Shabat, Tabi;in dan Tabi'ut Tabi'in. Kemudian setiap orang yang ikut jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -disepanjang masa-, mereka mereka ini disebut Salafi, karena dibisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber'aqidah, beribadah, berhukum, berkahlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oelh setiap Muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan 'aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasullah saw dan para sahabat r.a sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.(35)

  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H).(36)
Berkata: "Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan para ulama, karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.(37)

D. Definisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah:
Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya r.a. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba' (mengikuti) Sunnah Nabi saw dan para Shabatnya r.a.

Sedangkan menurut ulama 'aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para shabatnya, baik tentang ilmu, i'tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.(38)

Pengertian As Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat 795 H): "As Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi saw dan para Khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i'tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah As Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As Sunnah kecuali kepada apa saja yang encakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H), Imam al-Auza'i (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin 'Iyadh (wafat th. 187 H). (40)

Disebut al-Jama'ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul dibawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-Haqq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama;ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.(41)

Al-Jama'ah menurut ulama 'aqidah (terminologi) adalah generasi perama dari ummat ini, yaitu kalangan Shabat, Tabi'in, Tabi'iut Tabi'in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari Kiamat, karena berukumpul di atas kebenaran.(42)

Imam Abu Syammah asy-Syafi'i rahimahullah (wafat th. 665 H) berkata: "Perintah untuk berpegan kepada jama'ah, maksudnya adalah berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyalahiinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksankan oleh jama'ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah saw dan para Sahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan)sesudah mereka."

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas'ud r.a: (43) "Al-Jama'ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian."(44)

Jadi, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti sunnah Nabi saw dan menjauhi perkara yang baru dan bid'ah dalam agama.

Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba' (mengikuti) kepada Sunnah Rasulullah saw dan mengikuti Atsar (Jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar & Ahlul Ittiba'. Disamping itu mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaa-ifatul Manshuuurah (Golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-firqatun Naajiyah (Golongan yang selamat), Ghurabaa' (orang asing).

Tentang ath-Thaa-ifatul Manshuurah, Rasulullah saw bersabda:
"Senantiasa ada segolongan umatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu."(45)

Tentang al-Ghurabaa'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Al-Qur'an Wal Hadits Ala Fahmi Salaf

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:(lihat QS.At Taubah: 100)/(Qs. Al Baqarah: 137)Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah“. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204) Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)