Powered By google

Minggu, 05 Desember 2010

Menyoal Pemaknaan Syahadat


Tulisan ini disusun untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita dan juga untuk menanggapi komentar yang diberikan oleh seorang pembaca website yang lainnya. Di dalam tulisan ini, sengaja saya tidak menyebutkan nama orang yang mengajukan pertanyaan dan berkomentar dengan harapan semakin banyak orang yang bisa mengambil faidah dari penjelasan para ulama dan pemaparan yang nanti insya Allah saya bawakan.
Berikut ini rangkaian pertanyaan sekaligus komentar yang beliau utarakan:
“Mohon maaf kalau saya masih ingin mengirim komentar lagi karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu akan kebenaran makna kalimat syahadat, karena pembahasan yang seperti ini baru kali ini saya temui. Alhamdulillah saya jadi belajar banyak tentang kalimat syahadat ini, membaca dan source dari Al Quran. Kalau boleh saya simpulkan perbedaan antara kita adalah:
“1. Saya percaya ilah= rububiyah dan uluhiyah; anda percaya ilah hanya uluhiyah, jadi saya percaya ada hanya satu tuhan ; anda percaya ada banyak tuhan-tuhan maka menurut saya terjemahan tiada tuhan selain Allah adalah benar sedangkan menurut anda harus tiada sesembahan yang haq kecuali Allah…”
Polemik Pemaknaan Kata Ilah
Pembaca sekalian, semoga Allah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kita. Sebagaimana kita ketahui bersama sebagai umat Islam bahwa agama Islam ini dibangun di atas pilar yang sangat agung yaitu syahadat (persaksian) la ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Rasul bersabda yang artinya, “Islam
dibangun di atas 5 perkara; [1] syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, [2] menegakkan shalat dst.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian, dalam memaknai syahadat la ilaha illallah memang terjadi perselisihan di antara kaum muslimin. Sehingga hal ini menyeret sebagian di antara mereka ke dalam penyimpangan pemahaman. Salah satu sebab penyimpangan pemahaman ini adalah perbedaan penafsiran kata ilah yang terdapat dalam kalimat la ilaha illallah. Ada di antara mereka yang mengartikan ilah sebagai al qadir ‘alal ikhtira’/dzat yang maha berkuasa untuk mencipta. Hal itu sebagaimana penafsiran kaum Asya’irah (orang-orang yang mengaku menganut pemahaman Imam Abul Hasan Al Asy’ari), seperti dinukilkan oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh dalam kitab At Tamhid (hal. 75-76).
Nah, singkatnya mereka memaknai kata ilah dengan makna rububiyah; ilah bermakna pencipta, pengatur dan penguasa. Sehingga kalimat la ilaha illallah menurut versi mereka artinya ‘tidak ada pencipta, pengatur dan penguasa alam ini selain Allah’. Apakah pemaknaan ini benar? (Bedakan dengan pertanyaan; apakah
makna ini benar?). Untuk menjawab hal ini kita harus mengerti secara persis apakah makna kata ilah menurut bahasa Arab, sebab Al Qur’an turun dalam bahasa ini. Dan kita juga harus memperhatikan kandungan ayat-ayat yang berbicara tentang hal ini. Baiklah satu persatu akan kami paparkan, insya Allah.
Makna Kata Ilah Secara Bahasa
Kata ilah berasal dari kata alaha. Dalam kitab Ash Shihah fi Lughah diterangkan bahwa alaha artinya ‘abada (menyembah). Dalam Mukhtar Ash Shihah diterangkan bahwa alaha-ya’lahu artinya ‘abada (menyembah). Sedangkan kata ilah itu mengikuti pola/rumus fi’al yang bermakna maf’ul (objek). Sehingga ilah bermakna
ma’luh/objek yang disembah (lihat Mukhtar Ash Shihah bab Hamzah. Islamspirit.com). Di dalam Kamus Al Mu’jam Al Wasith (Jilid 1 hal. 25) disebutkan bahwa ilah adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai sesembahan. Apabila diungkapkan dalam bentuk jamak/plural maka disebut alihah (sesembahan-sesembahan). Sesembahan di dalam bahasa Arab juga disebut dengan ma’bud. Oleh sebab itu para ulama kita menafsirkan la ilaha illallah dengan la ma’buda bihaqqin atau la ma’buda haqqun illallah (lihat Syarh Tsalatsatu Ushul Ibnu Utsaimin, hal. 71).
Makna Kata Ilah Secara Terminologi
Dalam terminologi akidah makna kata ilah tidak berbeda dengan pengertiannya secara bahasa. Ibnu Rajab Al Hanbali mengatakan, Ilah adalah segala sesuatu yang ditaati dan tidak didurhakai yang hal itu muncul karena rasa penghormatan dan pengagungan kepadanya, yang dilandasi rasa cinta dan kekhawatiran, diiringi dengan harapan dan ketergantungan hati kepadanya, permohonan dan doa kepada-Nya. Dan hal itu semua tidaklah pantas kecuali diserahkan kepada Allah ‘azza wa jalla… (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, dinukil dari Hushul al Ma’mul, hal. 111).
Artinya ilah mengandung makna sesembahan/sesuatu yang diibadahi. Apa yang disebutkan oleh Ibnu Rajab di atas merupakan contoh-contoh ibadah, seperti; ketaatan, pengagungan, kecintaan, kekhawatiran, harapan, dan sebagainya. Jadi ilah artinya sesembahan. Demikianlah penafsiran para ulama tafsir, sebagaimana disampaikan oleh Imamnya ahli tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari (lihat Tafsir Ath Thabari QS. Muhammad ayat 19) dan para ulama yang lainnya. Hal ini akan semakin jelas jika kita meninjau makna ilah yang terdapat di dalam ayat-ayat Al Qur’an berikut ini.
Makna Kata Ilah Menurut Al Qur’an
Allah ta’ala berfirman menceritakan sikap orang-orang musyrikin Quraisy ketika menyambut dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sesungguhnya mereka dahulu apabila diserukan kepada mereka (untuk mengucapkan) la ilaha illallah, mereka menyombongkan diri dan mengatakan, ”Akankah kami
meninggalkan ‘alihah’ (sesembahan-sesembahan) kami hanya karena mengikuti ajakan penyair gila.”
(QS. Ash Shaffaat: 35-36)
Perhatikanlah ayat yang mulia ini. Ketika Nabi mengajak mereka untuk mengikrarkan la ilaha ilallah mereka menjawab, “Akankah kami meninggalkan sesembahan (ilah-ilah) kami…” Hal ini menunjukkan bahwa kata ilah menurut mereka berarti sesembahan, bukan pencipta dan semacamnya. Hal ini semakin jelas jika kita bandingkan penolakan mereka ini dengan pengakuan mereka tentang keesaan Allah dalam hal rububiyah yang juga dikisahkan oleh Allah di dalam Al Qur’an.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah
yang mengatur segala urusan. Maka niscaya mereka akan menjawab: Allah.”
(QS. Yunus: 31)
Yang dimaksud dengan ‘mereka’ di dalam ayat di atas adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah. Demikianlah keterangan ulama tafsir (lihat Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 363). Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka -orang-orang musyrik- telah mengakui tauhid rububiyah. Allah menjadikan
pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyah untuk mewajibkan mereka melaksanakan konsekuensi tauhid rububiyah yaitu tauhid uluhiyah. Demikian keterangan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 363).
Oleh sebab itulah para ulama mengingkari penafsiran la ilaha illallah atau tauhid ke dalam makna tauhid rububiyah semata. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan tauhid sekedar mencakup tauhid rububiyah saja, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, sebagaimana sangkaan sebagian orang dari kalangan ahli kalam/filsafat dan penganut ajaran tasawuf. Mereka mengira apabila telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah itu dengan membawakan dalil atau bukti yang kuat maka mereka telah berhasil menetapkan puncak hakekat ketauhidan…” (Sebagaimana dinukil oleh penulis Fathul Masjid, hal. 15-16).
Kesimpulannya, kata ilah bermakna sesembahan atau ma’bud/yang diibadahi. Hal ini telah terbukti berdasarkan tinjauan bahasa, realita dan juga menurut Al Qur’an sendiri. Sehingga sangat keliru jika la ilaha illallah dimaknai dengan tiada pencipta, pengatur dan penguasa selain Allah alias tauhid rububiyah. Sebagaimana sudah ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah di atas. Walaupun, pernyataan bahwa pencipta, pengatur dan penguasa alam ini adalah Allah semata merupakan pernyataan yang benar. Hanya saja menggunakan pernyataan-pernyataan tersebut untuk menafsirkan la ilaha illallah adalah sebuah kekeliruan.
Asal-Usul Penyimpangan Penafsiran
Lalu bagaimana dengan penafsiran ilah dengan makna rububiyah yaitu sebagai dzat yang berkuasa menciptakan? Dari manakah asalnya dan mengapa bisa muncul?
Syaikh Shalih Alusy Syaikh memaparkan, “Sesungguhnya kaum Mutakallimin, Asya’irah dan Mu’tazilah serta orang-orang yang mewarisi ilmu bangsa Yunani memiliki pendapat bahwa kata ilah di situ (dalam kalimat la ilaha illallah) bermakna fa’il (berarti pelaku). Memang, dalam bahasa Arab kata yang mengikuti pola fi’al (sepola dengan kata ilah) terkadang bermakna fa’il (seperti kata alih yang mengikuti pola fail) dan terkadang bermakna maf’ul (sehingga artinya menjadi ma’luh/yang disembah). Nah, dari celah itulah mereka mengatakan bahwa kata ilah bermakna alih. Sedangkan kata alih itu berarti Yang Maha Berkuasa (Al-Qadir). Oleh sebab itulah, mereka menafsirkan kata ilah dengan Al-Qadir ‘alal ikhtiraa (Dzat Yang Berkuasa menciptakan). Ini bisa kalian jumpai dalam buku-buku Akidah kaum Asya’irah, sebagaimana tercantum dalam buku Syarah Aqidah Sanusiyah yang mereka namai dengan istilah Ummul Barahin. Di dalamnya dinyatakan bahwa kata ilah artinya “Dzat Yang Maha tidak membutuhkan segala sesuatu, Dzat yang dibutuhkan oleh segala sesuatu selain diri-Nya”. Sehingga dia mengatakan: la ilaha illallah artinya; “Tidak ada Dzat yang Maha Kaya dan menjadi sumber terpenuhinya kebutuhan segala sesuatu kecuali Allah”. Ini artinya mereka telah menafsirkan tauhid uluhiyah dengan makna tauhid rububiyah…” (At Tamhid, hal. 75-76).
Penjelasan beliau di atas memang agak sukar dicerna bagi orang yang belum belajar kaidah bahasa Arab sama sekali. Kalau boleh saya perjelas, maka maksud keterangan beliau adalah sebagai berikut:
  1. Ada 2 pemaknaan kata ilah berdasarkan tinjauan bahasa Arab.
  2. Makna pertama; ilah dengan makna ma’luh, sedangkan yang kedua; ilah dengan makna alih.
  3. Ma’luh artinya al ma’bud = sesembahan, dalam bahasa kita disebut ‘tuhan’.
  4. Alih artinya al Qadir = yang maha kuasa, dalam bahasa kita disebut ‘tuhan’. Makna kedua ini lemah sebab tidak didukung bukti yang kuat.
  5. Karena mereka (Asya’irah dkk) mengambil makna kedua (ilah dengan makna alih) maka konsekuensinya makna la ilaha illallah adalah tauhid rububiyah. Penafsiran ini jelas salah berdasarkan tinjauan ayat Al Qur’an dan kenyataan orang-orang musyrik jaman dulu, sebagaimana sudah kami paparkan di atas (lihat lagi Makna kata ilah menurut Al Qur’an)
  6. Sedangkan tafsiran yang benar la ilaha illallah adalah tauhid uluhiyah; yaitu tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah; atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
Apa Kaitan Antara Tauhid Uluhiyah Dengan Tauhid Rububiyah ?
Kaitan antara kedua macam tauhid ini satu dengan yang lainnya adalah: tauhid rububiyah melahirkan konsekuensi tauhid uluhiyah. Dalam artian pengakuan terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuan terhadap tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk tunduk mengerjakannya (beribadah kepada Allah semata, pent). Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Rabb, pencipta, dan pengatur urusan-urusannya maka wajib baginya untuk menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan tauhid uluhiyah sudah mencakup tauhid rububiyah. Dalam artian tauhid rububiyah terkandung di dalam tauhid uluhiyah; sebab setiap orang yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun maka itu berarti orang tersebut pasti telah meyakini bahwa Dia (Allah) adalah Rabb dan pencipta dirinya. Demikian keterangan Syaikh Shalih Al Fauzan (Al Irsyad ila Sahihil I’tiqad, hal. 39).
Dari penjelasan di atas kita bisa mengetahui bahwa perkataan saudara kita yang menyatakan: “Saya percaya ilah= rububiyah dan uluhiyah; anda percaya ilah hanya uluhiyah...” adalah pernyataan yang di satu sisi mengandung kebenaran, namun di sisi yang lain ia mengandung kesalahpahaman. Yang pertama; ungkapan bahwa ilah sama dengan rububiyah dan uluhiyah adalah jelas keliru berdasarkan tinjauan makna bahasa dan juga terminologi Al Qur’an yang telah dipaparkan di atas. Namun, apabila dikatakan bahwa tauhid uluhiyah sudah mengandung tauhid rububiyah maka ini memang benar, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Fauzan di atas. Maka ungkapan ilah sama dengan rububiyah dan uluhiyah dalam artian orang yang bertauhid uluhiyah (melaksanakan kandungan la ilaha illallah) secara otomatis bertauhid rububiyah, maka ini adalah makna yang benar namun ungkapan yang dipakai kurang tepat.
Singkatnya, makna la ilaha illallah adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Maka semua orang yang benar-benar melaksanakan kandungan syahadat -dengan pemaknaan ini- tentu saja dia telah mengakui tauhid rububiyah secara otomatis. Berbeda halnya jika kita artikan la ilaha illallah tidak ada pencipta selain Allah, maka orang yang mengucapkan itu belum tentu bertauhid uluhiyah, sebagaimana sudah dipaparkan di atas tentang kondisi orang-orang musyrik di zaman Nabi. Wallahu a’lam.
Apakah Pernyataan “Tidak Ada Tuhan Selain Allah” Itu Keliru?
Kata ‘tuhan’ memiliki makna ganda. Terkadang orang menafsirkan dengan pencipta, terkadang dengan sesembahan.
Bukti yang menunjukkan penggunaan kata tuhan untuk makna yang pertama adalah sila pertama Pancasila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sebagaimana kita ketahui bahwa sila ini disetujui oleh bangsa Indonesia yang notabene penduduknya memeluk agama yang berbeda-beda. Yang kita juga tahu bahwa masing-masing agama memiliki sesembahan yang tidak sama alias berbeda-beda. Maka tentu saja arti ‘tuhan’ di
sini bukan sesembahan tetapi pencipta. Inilah makna yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama di negara kita, yaitu hanya ada satu pencipta alam ini yang mereka sebut dengan istilah Tuhan Yang Maha Esa. Maka kata tuhan dalam konteks ini semakna dengan kata rabb dalam bahasa arab. Oleh sebab itu dalam terjemah Depag ayat alhamdulillahirabbil’alamin diartikan ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’. Dan penerjemahan rabb dengan ‘tuhan’ banyak sekali kita temukan di dalam terjemahan Depag, ini sesungguhnya perlu diperjelas lagi sebab kata tuhan menyimpan makna ganda.
Bukti yang menunjukkan penggunaan kata tuhan untuk makna yang kedua adalah penerjemahan kata ilah menjadi tuhan, sebagaimana terdapat di dalam terjemah Al Qur’an versi Depag berikut ini. “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133). Kata ilah di dalam ayat tersebut (yang aslinya berbahasa arab) diterjemahkan menjadi tuhan. Dan ini sekali lagi memerlukan penjelasan tambahan (bahwa tuhan di sini
maknanya sesembahan), sebab sebagaimana sudah kami terangkan bahwa kata ilah bermakna ganda.
Dengan demikian, menurut hemat kami demi terjaganya pemahaman yang benar tentang tauhid maka sudah semestinya kata ilah diterjemahkan menjadi ’sesembahan’ atau ‘yang diibadahi’, sedangkan kata rabb, baari’ dan semacamnya diartikan sebagaimana adanya yaitu pemelihara, pencipta, dsb. Sehingga tidak perlu lagi digunakan kata ‘tuhan’ dalam menerjemahkan kata ilah atau rabb demi menjaga akidah umat dari ketergelinciran penafsiran. Namun, karena kata tuhan ini sudah terlanjur tersebar di lisan masyarakat maka hendaknya kita pandai-pandai menangkap maksud mereka ketika menggunakan kata itu. Jika mereka memaknai tuhan sebagai sesembahan maka kita katakan bahwa la ilaha illallah artinya tidak ada tuhan yang benar selain Allah. Akan tetapi jika mereka memaknai tuhan sebagai pencipta maka hendaknya kita katakan bahwa la ilaha illallah maknanya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Nah, daripada kita harus mengambil resiko umat salah paham maka langsung saja dipertegas bahwa makna la ilaha illallah adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah atau tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Wallahu a’lam (Penjelasan ini banyak kami dapatkan dari guru kami Ustadz Abu Isa hafizhahullah).
Berdasarkan penjelasan di atas maka kita akan bisa menjawab pertanyaan; apakah pernyataan ‘tidak ada tuhan selain Allah itu keliru?’ Jawabnya adalah:
Jika yang dimaksud dengan ‘tuhan’ adalah pencipta, penguasa, pengatur, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan dsb, (sehingga artinya tidak ada pencipta selain Allah/tauhid rububiyah) maka kita katakan bahwa makna pernyataan itu benar. Namun hendaknya penggunaan pernyataan ‘tidak ada tuhan selain Allah’ untuk mengartikan syahadat dihindari sebab sering menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat akibat keberadaan kata ‘tuhan’ yang bermakna ganda, sebagaimana sudah kami terangkan di atas.
Jika yang dimaksud dengan ‘tuhan’ adalah sesembahan (uluhiyah) maka dengan tegas kita katakan bahwa sesembahan yang benar adalah Allah. Adapun sesembahan selain Allah memang ada (ini bukan berarti membenarkan) akan tetapi sesembahan yang batil. Hal ini sebagaimana sudah ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang artinya, “Demikian itulah kuasa Allah, karena sesungguhnya Allah adalah (sesembahan) yang haq sedangkan segala sesembahan selain-Nya adalah batil.” (QS. Luqman: 30). Sehingga kalau maksud dari ungkapan ‘tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sesembahan yang benar hanya Allah, maka kita benarkan maksud ini. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh terjemah Depag pada sebuah ayat yang artinya, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 163). Namun, jika yang dimaksud adalah sesembahan yang ada hanya Allah, maka ini kita tolak berdasarkan realita dan juga ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa ada banyak sesembahan selain Allah. Ketika kita mengakui sesembahan selain Allah memang ada maka itu bukan berarti kita membenarkannya. Sebagaimana kita mengakui adanya kekafiran dan orang kafir, namun itu bukan berarti kita membenarkannya. Kita mengakui keberadaannya sebab yang disembah orang selain Allah itu memang ada, hanya saja kita wajib menolak dan membatilkan
peribadahan kepada mereka. Semoga bisa dipahami…
Berarti Ilah Selain Allah Itu Ada ?
Ya, memang demikian. Hal ini terbukti berdasarkan ayat Al Qur’an maupun realita. Telah dipaparkan di muka bahwa kata ilah dengan maknanya yang benar secara bahasa dan menurut Al Qur’an berarti sesembahan. Perhatikanlah terjemah ayat berikut ini. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang sesembahan mereka itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al Furqan:
3). Di dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa orang-orang musyrik mengangkat selain Allah sebagai alihah (bentuk jamak dari ilah yang artinya sesembahan). Berarti ilah selain Allah itu ada.
Perhatikan juga firman Allah ketika membawakan ucapan seorang lelaki yang mendakwahi kaumnya yang artinya, “Mengapa aku akan menyembah sesembahan-sesembahan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?” (QS. Yasin: 23). Di dalam ayat ini dia menyebutkan bahwa ada ilah selain Allah, dan Allah tidak mengingkari perkataan orang ini. Ini menunjukkan bahwa ilah selain Allah memang ada, namun ilah yang batil. Oleh sebab itu dia mengatakan di kelanjutan ayat tersebut, “Kalau aku demikian (menyembah sesembahan-sesembahan selain-Nya) tentu saja aku akan berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 24)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir di tengah-tengah kaum yang memiliki ibadah yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang menyembah (beribadah kepada) malaikat, ada yang menyembah nabi dan orang-orang shalih, ada pula yang menyembah pohon dan bebatuan, dan ada juga yang menyembah matahari dan bulan…” (Al
Qawa’id Al Arba’, Majmu’ah Tauhid
, hal. 10). Inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, sesembahan/ilah jumlahnya banyak.
Lantas Apa Maksud Peniadaan Ilah Selain Allah di Dalam Al Qur’an ?
Ini adalah pertanyaan cerdas. Di dalam ayat-ayat Al Qur’an ternyata kita juga menemukan adanya penafian sesembahan/ilah selain Allah. Padahal tadi sudah kita tetapkan bahwa ilah selain Allah memang ada akan tetapi ilah yang batil, lantas apa maksud dari ayat-ayat yang seolah-olah bertentangan kandungannya ini? Salah satu contoh ayat semacam ini adalah firman Allah yang artinya, “Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)” (QS. Al An’am: 19). Berdasarkan ayat ini maka si penanya mengajukan keberatannya atas pernyataan para ulama bahwa sesembahan atau ilah selain Allah itu memang ada, beliau mengatakan: Lalu bagaimana pertanggungjawaban kita dengan surat Al Anam 19 , bahwa tidak ada tuhan-tuhan lain, tuhan itu esa yaitu hanya Allah…
Pembaca sekalian, di dalam bahasa Arab ungkapan semacam ini sudah biasa digunakan. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu hal dinafikan namun yang dimaksudkan adalah keabsahannya bukan keberadaannya. Contohnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).” (HR. Imam yang lima; Ahmad,
Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan An Nasa’i). Apakah ini artinya orang tidak mungkin melakukan shalat tanpa membaca Fatihah, tentu saja bukan. Mungkin saja orang yang belum mengerti melakukannya. Sehingga shalat tanpa Al Fatihah itu benar-benar ada alias terjadi dalam alam kenyataan. Lalu apa maksud beliau dengan mengatakan, “Tidak ada shalat.” Maksudnya adalah meniadakan keabsahan shalat tanpa Al Fatihah. Artinya tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al Fatihah (lihatlah penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ dalam pembahasan sifat shalat Nabi). Maka demikian pula dengan penafian ilah selain Allah yang ada di dalam ayat-ayat Al Qur’an. Ilah selain Allah itu ada akan tetapi ilah yang tidak berhak untuk disembah alias batil. Wallahu a’lam.
Soal Kata yang Terhapus
Beliau mengatakan di dalam rangkaian pertanyaannya: Saya baru tahu kalau makna Laa ilaha illallah menyimpan kata yang terhapus. Saya belum pernah mendengarnya dan membacanya (maaf atas keterbatasan ilmu saya). Kalau boleh mohon diberikan hadits yang menyatakan tentang terhapusnya
kata haqqun dari kalimat ini dengan jelas, sehingga saya lebih mantap atas agama ini. Bagaimana QS Yusuf: 39 apakah tuhan-tuhan ini (menggunakan rob) dalam arti penyembahan atau tuhan-tuhan yang mencipta.

Pembaca sekalian, menafsirkan la ilaha illallah dengan la ma’buda haqqun illallah atau la ilaha haqqun illallah (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah) bukanlah takwil yang tercela (seperti pernah dilontarkan oleh salah seorang pengunjung situs ini). Hal ini dikarenakan dalam bahasa Arab suatu kata
atau ungkapan bisa saja dibuang dari pembicaraan karena faktor-faktor tertentu yang membolehkannya. Sehingga menyebutkan kata bihaqqin atau haq sesudah kata ilah atau ma’bud adalah bukanlah takwil. Buktinya, di dalam kitab-kitab Ilmu Kaidah Bahasa Arab (Nahwu) anda bisa menemukan penafsiran semacam ini.
Contohnya di dalam kitab Mu’jam Mufashshal fil I’rab disebutkan bahwa kata ilah adalah isim la (sebuah jabatan kata yang pada asalnya merupakan subjek pembicaraan, pent) mempunyai khabar (predikat kalimat) yang dihapus (tidak disebutkan). Sesuatu yang dihapus itu adalah kata maujud (yang ada). Sehingga ungkapan la ilaha illallah bila disebutkan secara lengkap maka bunyinya la ilaha maujud illallah. Artinya tidak ada ilah yang benar-benar ada kecuali Allah (lihat Mu’jam Mufashshal, hal. 374). Namun perlu kami tegaskan di sini bahwa penentuan kata yang dihapus di sini dengan kata maujud adalah sebuah kekeliruan besar!!
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa khabar (predikat kalimat) nya dihapus. Apabila kata yang dihapus itu dimunculkan maka kalimatnya menjadi la ilaha haqqun illallah (artinya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah). Dan beliau menyalahkan orang yang menyebutkan kata maujud sebagai pelengkap kalimat tersebut sehingga menelorkan pemaknaan la ilaha illallah menjadi la ilaha maujudun illallah (tidak ada sesembahan di alam nyata kecuali Allah). Beliau mengomentari pemaknaan mereka itu dengan mengatakan, “Ini adalah kekeliruan yang sangat besar.” (At Ta’liqat Al Jaliyah, hal.
682). Kalau penyebutan kata yang dihapus ini merupakan perkara yang tidak dikenal dalam bahasa Arab lalu untuk apa para ulama bahasa menyebutkan kata yang dihapus itu dalam kitab-kitab mereka?
Untuk memenuhi permintaan penanya yang menginginkan hadits yang menyatakan tentang dihapusnya kata haqqun, maka berikut ini kami sebutkan hadits semakna yang menyatakan bahwa ilah/sesembahan itu memang banyak. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala mengisahkan kejadian di hari kiamat, “Kemudian ada penyeru yang memanggil agar setiap kaum menemui apa saja yang mereka sembah (sewaktu di dunia). Maka para pemuja salib pun menuju salib mereka. Penyembah berhala juga pergi menuju berhala mereka. Dan setiap penyembah ilah-ilah itu pergi bersama dengan ilah-ilah mereka masing-masing…” (HR. Bukhari). Kalau dalam hadits ini Rasulullah menyebutkan ada banyak ilah, maka kesimpulan yang bisa kita ambil adalah ilah selain Allah adalah ilah yang batil. Dan ilah yang benar hanya Allah. Otomatis la ilaha illallah tidak bisa kita artikan tidak ada ilah selain Allah, tapi harus diartikan tidak ada ilah yang haq selain Allah.
Dan juga silakan perhatikan ayat yang artinya, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al Furqan: 43). Di dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa ada manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah. Ini menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa ilah selain Allah itu ada, salah satunya adalah hawa nafsu manusia itu sendiri. Dan itu adalah ilah yang batil.
Al Qur’an memang sempurna, dan salah satu kesempurnaan Al Qur’an ialah Al Qur’an turun dengan bahasa Arab. Itu artinya Al Qur’an hanya bisa dipahami dengan mengikuti kaidah bahasa Arab. Dan di antara kaidah bahasa Arab ialah apabila terdapat penggunaan kata la nafiyatu lil jinsi (seperti dalam la ilaha
illallah
) maka harus ada isim (subjek) dan khabar (predikat) nya. Isim la yaitu kata ilah, sedangkan khabarnya adalah kata haqqun yang tidak dinampakkan karena maksudnya sudah jelas dimengerti oleh orang Arab dahulu. Maka dari sini kita mengetahui betapa tidak tepatnya komentar pengunjung website yang lain yang mengatakan:
“Kalau ilah di kalimat tauhid ini hanya dipahami secari uluhiyah maka kita terpaksa meletakkan Allah sejajar dengan ilah2 yang lain dan terpaksa kita menambah kata haq supaya maksud ini tercapai. Padahal Allah telah membuat kalimat ini tanpa kata haq sedikitpun, dan yang pasti kalimat ini adalah kalimat
yang sempurna dan tidak pernah berubah sedikitpun sejak jaman dulu sampai sekarang yang dari nabi pertama sampai nabi terakhir diutus untuk kalimat ini. Memang ada ide yang mengatakan Allah menyembunyikan kata haq, tapi saya pikir hal ini tidak mungkin karena kalimat ini seharusnya sudah sempurna mengingat ketinggiannya di atas kalimat lain. Dan penambahan kata haq ini adalah sesuatu
tambahan, yang tidak ada keterangan sedikitpun di dalam quran dan hadist. Penambahan ini juga mungkin terjadi setelah ada ilmu nahwu dan shorof yang dibuat setelah jaman nabi. Dengan adanya ilmu ini maka mereka menganganggap bahwa kalimat yang datang dari Allah dan telah disampaikan semua nabi dan
termasuk nabi Muhammad saw ini tidak sempurna dan perlu tambahan kata haq sebagai syarat kesempurnaan kalimat ini.”

Kalaulah pola berpikir semacam ini kita terapkan, maka kita juga ‘terpaksa’ harus mengatakan bahwa ilmu-ilmu syar’i semacam Mushthalah Hadits, Qawa’id Fiqhiyah, Jarh wa Ta’dil, Ushul Fiqih, dan lain sebagainya adalah tidak diperlukan alias sia-sia saja. Kenapa? Sebab dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakannya. Begitu pula penyebutan rukun shalat, syarat-syaratnya, pembatal-pembatalnya, tidak pernah dibakukan oleh mereka ke dalam satu pembahasan disiplin ilmu.
Penggunaan Kata Rabb Dengan Makna Ilah
Memang terkadang di dalam Al Qur’an atau As Sunnah kata rabb dipakai dalam konteks pembicaraan tertentu sementara yang dimaksudkan adalah makna ilah, bukan semata-mata rabb dalam artian rububiyah. Seperti ayat yang disebutkan oleh penanya yaitu surat Yusuf ayat 39. Di dalam ayat itu disebutkan perkataan Nabi Yusuf ketika berdakwah di dalam penjara, “Hai dua orang temanku di penjara.
Manakah yang lebih baik; rabb-rabb yang bermacam-macam itu ataukah Allah ilah yang esa lagi Maha Kuasa?”
Kata rabb dalam ayat ini digunakan dengan makna ilah. Untuk membuktikan hal ini marilah kita lihat sebuah hadits yang menceritakan perbincangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
salah seorang sahabatnya yang dulunya Nasrani yaitu Adi bin Hatim.
Dari Adi bin Hatim, suatu ketika dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, “Mereka (ahli kitab) telah menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka itu sebagai rabb-rabb selain Allah.” (QS. At Taubah: 31). Maka aku (Adi) berkata kepada beliau, “Sesungguhnya kami dahulu tidak menyembah mereka.” Nabi menjawab, “Bukankah dahulu mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya. Dan mereka juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan kalian pun ikut menghalalkannya?” Lalu kukatakan, “Iya, betul demikian.” Maka Nabi bersabda, “Itulah yang dimaksud penyembahan kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi meng-hasan-kannya).
Hadits yang mulia ini menunjukkan banyak pelajaran yang sangat berharga kepada
kita, di antaranya:
  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penafsir dan penjelas Al Qur’an, maka untuk memahami Al Qur’an kita harus mengikuti metode pemahaman beliau.
  2. Adi bin Hatim memahami makna ayat ‘menjadikan pendeta dan rahib sebagai rabb’ ialah menyembah mereka. Ini menunjukkan bahwa kata rabb di sini digunakan dan dipahami dengan makna ilah/sesembahan bukan rabb dalam artian pencipta, dsb.
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui pemahaman Adi bin Hatim bahwa makna ‘menjadikan pendeta dan rahib sebagai rabb’ adalah menyembah mereka, bukan dalam artian menjadikan mereka sebagai pencipta, penguasa dan pengatur alam ini. Sehingga Nabi dan Adi bin Hati sepakat tentang makna rabb dalam ayat ini adalah dipahami dengan makna ilah.
  4. Salah satu bentuk ibadah/penyembahan adalah ketaatan. Maka barangsiapa yang menaati orang lain dalam menghalalkan dan mengharamkan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan syari’at sesungguhnya dia telah menyembahnya.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa kata rabb di dalam ayat di atas (QS. Yusuf: 39) adalah dipakai dan harus dipahami dengan makna ilah, berdasarkan realita dan pemahaman terhadap kandungan ayat-ayat Al Qur’an yang lain dan juga tafsiran dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.
Apakah Orang Musyrikin Bertauhid Rububiyah ?
Penanya mengatakan:
“Mengapa orang musryik menyembah Nyi roro kidul? Mereka pasti punya alasan mengapa sampai memutuskan untuk menyembahnya. Bukankah karena percaya bahwa Nyi Roro Kidul bisa memberi keamanan, memberi rejeki, sebagai pemelihara di laut (mempunyai kekuatan rububiyah). Demikian juga dengan adanya dewa padi, dewa hujan, dewa rejeki/pemberi. Bukankah ini menyatakan mereka percaya ada rob lain. Berarti mereka masih bermasalah/tidak paham dalam pemahaman rububiyah. Jadi kalau orang musyrik hanya percaya satu rob dan mereka lebih paham dari da’i Islam kelihatannya perlu DIKAJI ULANG.”
Apabila yang dimaksud adalah orang-orang musyrik jaman dahulu dan mayoritas musyrikin zaman sekarang, maka jelaslah bagi kita memang seperti itulah kenyataannya. Mereka memahami tauhid rububiyah secara global. Sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam banyak ayat-Nya. Adapun kaum musyrikin jaman sekarang, maka bisa jadi mereka terjerumus dalam penyimpangan dalam hal cabang-cabang tauhid rububiyah. Dan ini juga realita yang tidak kita pungkiri, meskipun hal ini relatif jarang terjadi kecuali pada diri orang yang memang sudah benar-benar rusak fitrahnya.
Lalu Mengapa Orang Musyrik Zaman Sekarang Menyembah Nyi Roro Kidul ?
Bisa jadi karena mereka punya anggapan bahwa Nyi Roro Kidul bisa memberi keamanan, rezeki dll sebagaimana dikatakan oleh penanya. Dan ini merupakan kenyataan. Oleh sebab itu para ulama kita mengatakan bahwa salah satu sebab lebih parahnya kesyirikan masa kini apabila dibandingkan dengan masa silam adalah kesyirikan jaman sekarang sudah melebar ke dalam masalah rububiyah, tidak hanya uluhiyah saja. Berbeda dengan musyrikin jaman dulu yang masih paham tauhid rububiyah. Buktinya ketika mereka terhempas ombak lautan dan khawatir tenggelam mereka pun berdoa hanya kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Maka ketika mereka telah naik kapal (dan dihempas ombak lautan) mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan amal. Namun ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan tiba-tiba mereka kembali melakukan kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 65)
Walaupun sebenarnya alasan orang musyrik -secara umum- ketika menyembah selain Allah adalah karena ingin menjadikan sosok-sosok tersebut sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyampaikan hajat mereka kepada Allah. Sebagaimana telah diungkap dalam banyak ayat Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai
penolong/sesembahan, mereka beralasan, ‘Kami tidaklah menyembah mereka melainkan
hanya untuk mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’…”
(QS. Az Zumar: 3). Allah juga berfirman yang artinya, “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang jelas tidak bisa memberikan manfaat dan tidak sanggup menolak mudarat bagi mereka, mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi
syafa’at bagi kami di sisi Allah…”
(QS. Yunus: 18). Dan inilah bentuk kesyirikan kaum musyrikin masa silam dan masa kini yang banyak merebak di masyarakat.
Kesimpulannya, orang-orang musyrik -secara umum- telah memahami tauhid rububiyah secara global yaitu keyakinan bahwa pencipta seluruh alam ini hanya Allah. Dan tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali segelintir manusia, itupun karena keangkuhannya. Walaupun dalam tataran praktis -yaitu perincian tauhid rububiyah- bisa jadi banyak orang yang terjerumus dalam syirik rububiyah. Sebagaimana yang diutarakan oleh penanya tentang fenomena Nyi Roro Kidul tersebut.
Demikianlah sedikit pemaparan yang bisa kami ketengahkan di sini. Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang bisa ditambahkan dan disempurnakan, namun karena keterbatasan kami dan juga keterbatasan waktu yang ada maka kami berharap penjelasan ini sudah memadai dan menambah iman dan takwa kita kepada Allah, amin. Allah lah pemberi petunjuk dan pemberi pertolongan. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Yogyakarta, Dhuha 5 Rajab 1429/ 9 Juli 2008
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Al-Qur'an Wal Hadits Ala Fahmi Salaf

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:(lihat QS.At Taubah: 100)/(Qs. Al Baqarah: 137)Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah“. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204) Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)