Powered By google

Rabu, 22 Desember 2010

Kedudukan Tauhid Dalam Islam

Oleh Ustad Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

Tauhid merupakan syukur bagi seorang muslim [3]

'Aqidah adalah dasar utama dibangunnya umat ini, maka baik buruknya suatu ummat tergantung dari keselamatan aqidah dan manhajnya. Seluruh para Nabi dan Rasul 'alaihimush shalaatu wa sallam  telah mendakwahkan tauhid kepada umatnya di setiap kurun (generasi) nya.

Semua Rasul memulai dakwah mereka kepada kaummnya dengan Tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereke beribadah dengan benar hanya kepada Allah saja.

Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja[4]. Sebagaimana firman Allah:
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah thaghut,'..." (QS. An-Nahl:36) 

Dan Firman-Nya:
"Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun sebelum engaku (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: 'Bahwasanya tidak ada Ilah {Tuhan yang berhak untuk diibadahi dengan benar} selain Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepada-Ku." (QS. Al-Anbiyaa':25)

Juga firman-Nya:
Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)  (QS. Al-Mu'minuun: 32)

"...Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya..." (QS. Al-A'raf: 59)


Yang demikian karena Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk agar menyembah-Nya semata, Dzat yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaiman Allah berfirman:


"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariat:56)

Ibadah merupakan hak Allah yang harus ditunaikan oleh hamba-Nya. Sebagaiman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal  radhiyallahu 'anhu:
'Wahai Muadz! Tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah? 'Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau pun bersabda: "Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ialah sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.' Aku bertanya: Wahai Rasulullah Tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab: Janganlah kau sampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mreka akan bersikap menyandarkan diri." [5]

Dan Hak Allah atas hamba-Nya ini tidak boleh didahului oleh urusan apapun dan hak seorang pun. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak...(QS. Al-Isra':23)

Allah juga berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), 'Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Rabb kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu bapak....(QS. Al-An'aam:151)


Allah mendahulukan hak-Nya di atas seluruh hak yang lain, dan keberadaan hak ini sebagai asas yang menjadi dasar dibangunnya seluruh hukum-hukum Islam. Kita bisa melihat bagaiman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal di kota Mekkah selama tiga belas tahun hanya untuk menyeru umat manusia menegakkan kalimat tauhid dan meninggalkan kesyirikan. Dan Al-Qur'anul Karim sebagain besar ayat-ayatnya menegaskan perintah untuk bertauhid dan melarang kebalikannya, yaitu Syirik.


Disamping itu, setiap orang yang melakukan shalat, baik fardhu maupun sunnah, dia telah berjanji berulang kali kepada Allah untuk menegakkan tauhid ini dalam ucapannya.


"Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan" (QS. Al-Fatihah:5)

Hak yang agung ini bisa dinamai dengan tauhid 'Ubudiyyah atau tauhid Uluhiyyah atau tauhid ath-Thalabalal (tuntunan) dan al-qashd (tujuan) - semua ini maksudnya sama - dan tauhid ini merupakan hal yang sudah tertanam pad setiap fithrah manusia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi [6]


Jadi, Tauhid merupakan pangkal asal di alam ini, sedang kesyirikan merupakan perkara baru yang muncul dan masuk ke dalamnya.
Allah berfirman:
"Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan..." (QS. Al-Baqarah:213)


Allah juga berfirman:
"Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudia mereka berselisih..." (QS. Yunus:19)

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh terdapat sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam."

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata: "Ini adalah pendapat yang benar tentang ayat tersebut dan telah disebutkan di dalam Al-Quran ayat-ayat yang mendukungnya."

Pendapat ini dishahihkan pula oleh al-Hafidzh Ibnu Katsir dalam kitab tafsiir-nya, dan yang pertama kali berbuat syirik (adalah) kaum Nabi Nuh 'alaihis salaam tatkala mereka ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang shalih mereka, sombong dan menentang dakwah Nabinya,

"Dan mereka berkata: 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meinggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr." (QS. Nuh:23)


Imam Bukhari rahimahullaah meriwayatkan dalam kitab Shahiih-nya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma,beliau berkata, "Nama-nama ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal dunia, maka setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh agar mereka menancapkan patung pada majelis-majelis yang biasa digunakan untuk berkumpul oleh mereka, dan setiap patung diberi nama dengan nama-nama mereka. Hal tersebut terus dilakukan, tetapi tidak disembah, sampai ketika generasi itu meninggal dunia dan ilmu telah dilupakan, akhirnya patung-patung itu pun disembah.[7]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata: "Lebih dari seorang ulama salaf telah berkata bahwa tatkala orang-orang shalih (kaum Nabi Nuh) tersebut meinggal dunia maka mereka beriti'kaf di kubur-kuburnya, kemudia menggambar patung-patungnya dan ketika waktu terus berjalan maka mereka menyembah patung-patung tersebut."


Kemudia beliau pun berkata: "setan bersama orang-orang musyrik yang asyik dalam beribadah kepada patung di tiap-tiap kaum sesuai dengan kadar akal mereka. Maka sebagain kaum mengajaknya untuk menyembahnya dengan cara mengagungkan orang-orang yang telah mati yaitu dengan membuat patung-patung mereka sebagaimana perbuatan kaum Nabi Nuh, hal yang demikian inilah yang mendominasi mayoritas kaum musyrikin yang awam. Adapun pada kalangan khusus, mereka menyembah patung-patung karena - menurut anggapan mereka - patung-patung tersebut merupakan personifikasi bintang-bintang yang mempengaruhi kehidupan alam ini. Maka mereka menyiapkan untuk patung-patung tersebut rumah-rumah, pelayan, tirai penutup, dan sembelihan-sembelihan. Halini masih terus berlangsung di dunia, dari dahulu hingga sekarang.


Keyakinan ini berasal dari orang-orang musyrik Shabi'ah dari kaum Nabi Ibrahim yang pernah diajak dialong oleh beliau tentang bathilnya perbuatan syirik, maka hujjah-hujjah mereka dipatahkan Nabi Ibrahim dengan Ilmu dan dihancurkan tuhan-tuhan mereka dengan tangannya hingga mereka menuntut agar Ibrahim dibakar.


Kelompok lainnya menjadikan bulan sebgai berhala, mereka beranggapan bahwa bulan itu pantas untuk disembah dan bulanlah yang mengatur kehidupan di alam semesta. Ada juga kelompok lain yang menyembah api yaitu orang-orang Majusi. Mereka membangun untuknya rumah-rumah yang banyak, menjadikan baginya pelayan dan tirai penutup, maka tidaklah mereka menyeru dan berdo'a kepadanya kecuali untuk menghapus satu kesalahan atau pengampunan suatu dosa. Kelompok lainnya menyembah air dengan beranggapan bahwa air asal segala sesuatu dan dengannya segala sesuatu dilahirkan, tumbuh, dan berkembang serta dengan air pula untuk bersuci dan hidup. Kelompok lainnya beribadah kepada binatang-binatang, ada yang menyembah kuda, dan ada juga yang menyembah sapi. Kelompok yang lain menyembah manusia yang hidup maupun yang mati, kelompok lainnya menyembah jin, menyembah pohon-pohon dan ada pula yang menyembah malaikat."

Dari atsar (perkataan para sahabat) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas yang menjelaskan sebab terjadinya kesyirikan pada kaum Nabi Nuh, dapat kita simpulkan beberapa perkara yang penting, sebgai berikut:

  1. Bahayanya menggantungkan gambar-gambar di tembok dan membangun patung-patung di majelis-majelis atau di lapangan-lapangan. Hal itu bisa mendorong umat manusia untuk melakukan kesyirikan, dimana mereka akan melakukan pengagungan yang berlebihan terhadap gambar dan patung-patung tersebut dan selanjutnya mereka menyembahnya dan berkeyakinan bahwa gambar dan patung itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya sebagaimana pernah terjadi pada kaum Nabi Nuh
  2. Bersemangatnya setan untuk menyesatkan anak-cucu Adam dan mengelabui mereka. Setan mendatangi anak-cucu Adam dengan cara yang halus dan dengan slogan menganjurkan untuk berbuat baik. Tatkala setan melihat kaumnya Nabi Nuh sangat menghormati dan mencintai orang-orang shalih, maka ia menyeru kepada mereka untuk berlebih-lebihan dalam mencintai orang shalih tersebut di majelis-majelis mereka dengan tujuan mengeluarkan mereka dari jalan kebenaran.
  3. Setan bukanlah makhluk yang berpadangan sempit yang hanya ingin menyesatkan generasi masa kini, tetapi ia memiliki pandangan jauh untuk menyesatkan generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, tatkala setan melihat bahwa kesyirikan tidak mungkin akan dilakukan pada awal generasi kaum Nabi Nuh, maka setan bertekad dan bersemangat memasang jerat dan perangkap untuk menjatuhkan generasi selanjutnya.
  4. Tidak boleh menganggap enteng segala macam perantara kejahatan, bahkan wajib mencegahnya dan menutup pintu-pintu yang menuju kepadanya.
  5. Keutamaan Ulama yang mengamalkan ilmunya dan keberadaan mereka di bumi ini sebagai suatu kebaikan bagi manusia, sedangkan tidak adanya mereka merupakan kejelekan dan bencana. Sebab, setan merasa tidak mampu untuk menyesatkan suatu kaum selama ulama masih ada di tengah-tengah mereka.
 Dan kewajiban seorang muslim sejati adalah menjadi pengikut Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang setia, mengikuti petunjuknya, mencontoh teladannya, melaksanakan dan membela sunnah-sunnahnya, serta menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan bid'ah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk mengajak umat manusia agar mereka mentauhidkan (mengesakan) Allah dan menjauhkan segala macam perbuatan syirik.
Kalimat Tauhid bagi kaum Muslimin, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi kerena tauhid bagi mereka adalah suatu ibadah yang wajib dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dan yang harus pertama kali didakwahkan sebelum yang lainnya.
Allah Ta'ala berfirman:
"...Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan keataatan kepada-Nya. Ingatlah kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)..." (QS. Az-Zumar: 2-3)

Allah Ta'ala juta berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."(QS. Al-Bayyinah:5)

Kemuliaan ilmu tergantung dari kemuliaan apa yang dikaji. Ilmu yang paling agung dan paling mulia adalah Ilmu Tauhid dan ushuluddin. Karena diatas tauhid inilah Allah Ta'ala menciptakan jin dan manusia, menurunkan Kitab-kitab, mengutus para Rasul, serta menciptakan Surga dan Neraka. Barang siapa mempelajari Ilmu Tauhid dan mengamalkannya, maka dialah orang yang bertakwa lagi berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa yang mengabaikannya dan tidak mau mempelajarinya, maka dialah orang yang sengsara lagi celaka.

Allah Ta'ala menyuruh para hamba-Nya untuk menuntut ilmu syar'i. Ilmu yang pertama kali harus dipelajari adalah Ilmu Tauhid mengenal Allah, mengkaji bagaimana mentauhidkan Allah, dan beribadah kepada-Nya dengan benar.
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka ketahuilah bahwa tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu."(QS. Muhammad:19)

Orang yang mati dalam keadaan mentauhidkan Allah, maka ia akan masuk surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia mengetahui bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka ia masuk surga"[8]

Dengan demikian, kedudukan tauhid adalah sebagai pondasi bagi bangunan amal seorang muslim. Perhatian seorang yang arif tentu senantiasa tertuju pada pembenahan pondasi, sedangkan orang yang bodoh akan terus meninggikan bangunan tanpa mengokohkan pondasi sehingga robohlah bangunannya. Keikhlasan dan tauhid juga diibaratkan sebatang pohon yang tumbuh dalam hati, amal perbuatan adalah cabang-cabangnya, kedamaian adalah buahnya yang dirasakan dalam kehidupan dunia ini serta kenikmatan yang kekal diakhirat. Sebagaimana buah-buahan surga tidak akan terputus dan terlarang, demikian pula halnya "buah" keikhlasan dan tauhid ini tidak akan terputus dan terlarang.
Kesyirikan, Dusta, Riya, bagaikan sebatang pohon yang tumbuh dalam hati manusia, buahnya didunia adalah ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, kesempitan yang dirasakan dalam dada, serta kegelapan yang menimpa hati. Sedangkan diakhirat kelak akan membuahkan zaqqum[9] dan adzab yang kekal [10].

___________
Footnote:
[3] Lihat Fawaa-idul Fawaa-id (hal.149)
[4] Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib. Lihat al-Quran surat al-Araf: 65, 73 & 85
[5] shahih: HR.Bukhari no.2856, 5967, 6267, 6500, 7373 dan Muslim no.30
[6] shahih: HR.Muslim no.2047
[7] shahih al-Bukhari no.4920
[8] shahih: HR.Muslim no.26 dari sahabat Utsman radhiyallahu anhu
[9] Sebatang pohon yang tumbuh di Neraka
[10] lihat Fawaa-idul (hal.261) karyat Ibnul Qayyim, dan lihat tentang perumpamaan ini dalam surat Ibrahim ayat 24-27

[Dikutip dari Buku "Tauhid Jalan menuju keadilan dan kemakmuran" karya al-Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet ke-1 Sya'ban 1429H/ Agustus 2008 penerbit Media Tarbiyah Po.Box 391 Bogor 16003 Jawa Barat-Indonesia.]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Al-Qur'an Wal Hadits Ala Fahmi Salaf

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:(lihat QS.At Taubah: 100)/(Qs. Al Baqarah: 137)Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah“. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204) Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)