Powered By google

Sabtu, 04 Desember 2010

APA HUKUMNYA MINTA TOLONG HUJAN BERHENTI KE ORANG PINTAR??

ASSALAMUALAIKUM

Para sahabat yg budiman

Ada sebagian orang bilang kalo mau hajatan/pesta walimah nikah/hal lain

!!! {Agar tidak hujan ke pawang hujan saja} !!! "Demi Allah Itulah perktaan orang-orang yg menyembah Allah tapi menyekutukanNya (jika yang mengatakannya muslim)."

Sungguh itu adalah Jelas Perbuatan SYIRIK BESAR [mendatangi/mempercayakan org bisa menghentikan hujan] [Kemampuan menurunkan Hujan diluar batas kemampuan Manusia]

1.Larangan Meminta (Sesuatu) Kepada Makhluk

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit atupun di bumi selain Allah.” (QS. An-Naml: 65).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan,di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Senantiasa seseorang itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah ta’ala (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya.” (HR. Al Bukhari, 3/338- Fathul Bari dan Muslim, no. 1040)Pengertian Hadits:Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan, keburukan (karena) menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah ta’ala dan ini termasuk satu jenis kesyirikan, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita meminta kepadanya dan ini termasuk satu jenis kezaliman terhadap makhluk, dan (keburukan karena) menundukkan diri kepada selain Allah ta’ala dan ini termasuk satu jenis kezaliman terhadap diri sendiri.” (Kitabul Iman, hal. 66)Akan tetapi jika seseorang benar-benar terpaksa meminta sesuatu yang mampu dilakukan oleh makhluk, maka (dalam kondisi ini) diperbolehkan baginya, dengan tetap berusaha menghindarkan diri dari keburukan-keburukan yang tersebut di atas (Lihat Ad Durarus Saniyyah, hal. 79).

2.Larangan Meminta (Sesuatu) Kepada Makhluk

jika seseorang mampu untuk mengerjakan (sendiri) suatu pekerjaan, maka janganlah dia meminta (pertolongan) kepada siapapun, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengambil perjanjian dari beberapa orang Sahabat radhiyallahu ‘anhu agar mereka tidak meminta apapun kepada manusia, (sampai-sampai) perawi hadits ini berkata: “maka salah seorang dari mereka ketika cemetinya terjatuh (dari hewan tunggangannya), dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkan cemeti tersebut untuknya (yaitu dia turun dari hewan tunggangannya dan mengambilnya sendiri) (HR. Muslim, no. 1043), dan dalam hal ini kemampuan masing-masing orang untuk menunaikan tingkatan ini berbeda-beda (sesuai dengan tingkat keimanan mereka) (Syarh Al Arba’in, Syaikh Shaleh Alu Asy Syaikh hal. 107).


3.Diharamkannya praktek perdukunan dan perbuatan mendatangi (berkonsultasi dengan) dukun

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dukun-dukun itu biasa menuturkan kepada kami lantas kami jumpai bahwa apa yang mereka katakan itu benar/terbukti, -bagaimana ini-.” Maka Nabi menjawab, “Itu adalah ucapan benar yang dicuri dengar oleh jin (syaitan) kemudian dia bisikkan ke telinga walinya (dukun) dan dia pun menambahkan seratus kedustaan di dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [7/334])

4.Wajibnya mendustakan ucapan para dukun

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka dia telah kufur kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah)

5.Wajibnya Memberantas Praktek Perdukunan:

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah hal itu dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu untuk itu maka cukup dengan hatinya, dan itu merupakan keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [2/103])

6. Jika kita seorang mukmin maka kita akan tahu ada sebuah doa Dari Hadits shahih Rasulullah saw:

DOA AGAR HUJAN BERHENTI:

ALLAHUMMA HAWAA LAINAA WALAA ALAINAAALLAHUMMA 'ALAL AKAAMI WADZIRAABI WA BUTUUNIL AUDIYATWAMANAA BATISY-SYAJAR..."Ya Allah! Hujanilah disekitar kami, janganlah kepada kami. Ya Allah, berilah hujan kedaratan tinggi, beberapa bukit anak perut lembah dan beberapa tanah yg menumbuhkan pepohonan."[HR.Bukhari 1/224 & Muslim 2/614]
(dinukil dari kitab Hisnul Muslim Min Adzkaaril Kitaab was Sunnah olh Syaikh Said bin Ali bin Wahaf Al-Qhathani)

Jika Rasulullah sudah mengajarkan kita untuk berdoa kenapa kita msih percaya terhadap Orang Pinter !!
""Orang Pinter = Dukun [Cuma beda Penyebutan saja, intinya sama saja Haram]""

akhirul kalam
Semoga kita tidak termasuk gol org yg menyembah Allah tp menyekutukanNya dg hal lain, amin

"wassallam"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Al-Qur'an Wal Hadits Ala Fahmi Salaf

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:(lihat QS.At Taubah: 100)/(Qs. Al Baqarah: 137)Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah“. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204) Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)